Menikah: Pilihan atau Keharusan?
Hay all, happy iedul fitri ya buat yang merayakan.
Baru pulang mudik nih cuapek banget tapi seneng si soalnya udah 3 tahun ngga mudik bersama kaya gini.
Anyway, cerita mudik kali ini agak beda dari mudik2 sebelumnya.. mungkin karena ini sudah tahun 2008 dan kami (gw dan kakak gw) masih dateng mudik cengangas cengenges bersama dengan orang tua kami (dan bukannya dengan suami kami masing-masing). Memang, saat ini baik di keluarga bokap gw atau pun nyokap gw, kakak gw lah cucu tertua yang belum menikah (yang posisi no dua nya di isi oleh gw, sigh!!). Akhirnya ramai lah kami (eh kakak gw deng heheh) dijadikan objek bercandaan, mulai dari yang samar-samar sampai yang terang-terangan(sabaaarrr buu!!).
Entah karena sibuk mencari alasan pembelaan diri atau benar-benar ingin mencari arti kehidupan maka sampailah kami (gw dan kakak gw) pada diskusi seputar kewajiban menikah.
Menurut agama kami, menikah adalah sunnah yang paling dikuatkan, amat sangat dianjurkan, saking pentingnya bahkan sendaan dan gurauan (ada ngga si bahasa kaya gini?) antara suami istri pun akan dinilai sebagai ibadah. Ah tapi memangnya menggapai nilai ibadah hanya bisa dengan menikah? berbakti pada orang tua selagi mereka masih ada pun bukannya suatu ibadah yang juga maha penting?
Tetapi kemudian yang lebih seru justru adalah diskusi kami tentang pengamatan kami terhadap orang-orang yang telah menikah. Kami mengelompokkan mereka ke dalam dua kelompok:
1. mereka yang menikah karena memang telah merasa butuh menikah dan juga telah menemukan orang yang tepat untuk dinikahi. Biasanya mereka yang termasuk dalam kelompok ini relatif berusia muda dan masih gampang terbuai dalam indahnya cinta. Dalam menjalani hidup mereka cenderung naive, dengan slogan “makan ngga makan asal berdua abang/neng”. Pikirannya cenderung berkutat dalam jangka pendek saja, “aku cinta kamu cinta yuk kita nikah”, dan berfikir semua akan bisa diselesaikan begitu saja nantinya.
2. mereka yang menikah karena menganggap menikah itu adalah suatu proses alamiah yang harus dijalani sebagai progress dalam kehidupan mereka. Biasanya mereka yang termasuk kelompok ini adalah yang mereka yang sudah “ber umur”, menikah adalah pelengkap dalam kehidupan mereka. “Aku sudah selesai sekolah, sudah bekerja mapan, sekarang tinggal punya istri nih yang belum”. Akibatnya banyak dari mereka yang menikah karena di jodohkan baik oleh orang tua, teman, guru ngaji atau yang lain. Dalam menjalani kehidupannya lebih cenderung dingin, lempeenggg, jarang ada canda-canda mesra di antara mereka (halah bahasanya). Biasanya tampak ada salah satu pihak yang dominan.
Well basically tidak ada salah atau benar tapi kami hanya merenung, ingin masuk ke kelompok mana kah kami? tentu berbahagia lah buat mereka yang bisa mendapatkan pasangan yang dicintai dalam kondisi yang tepat… tapi sering kali kan kenyataannya ngga begitu. Ada yang dicintai tapi dia ngga cinta, ada yang saling mencintai tapi keluarga ngga setuju, ada yang saling mencintai juga tapi penghasilan belum memadai, ada yang udah kepepet umur padahal belum menemukan orang yang tepat, ada yang merasa bersalah kalau ngga nikah walaupun dia sebenarnya belum ingin menikah.. daaaannnnn masiihhh banyak kondisi2 tidak ideal lainnya.
Tapi akhirnya bagi kami sih, as long as kami bahagia dan bertanggung jawab terhadap pilihan hidup maka kami akan memilih bersikap acuh terhadap lingkungan. Menikah, seharusnya adalah progress untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia, bukan sebaliknya. Jadi benar-benar harus dipikirkan secara matang, tidak main-main. Come on, the rest of our live kita akan hidup terus bersama orang itu.. jadi orang itu harus bener2 orang terpilih, no matter what orang mau bilang apa dan no matter what umur kami udah berapa (coba mungkin bbrp tahun lagi, di saat bener2 umur panik, gw akan meng edit tulisan ini huahhaha). Tapi semoga kami tidak terjebak dalam pencarian Mr. Right yang tidak berujung, karena sejatinya pun kami menyadari bahwa kami juga bukan Miss. Right (jangankan Miss Right, Miss Indonesia aja ngga.. apa sihhh) heheh. Tapi yang pasti keterpaksaan dalam menikah (keterpaksaan itu tidak harus terlihat secara frontal loh, kadang justru itu timbul secara tidak sadar dalam diri kita sendiri), bukan jalan yang kami pilih ketika kami memutuskan untuk menikah. Iya ngga Mbak? Gudlak ya mbak pencariannya, the ball is on you Sist huehehhe pisss..
2 comments October 6, 2008